Monday, 18 December 2017

HEADLINE: Bagaimana Peluang Ridwan Kamil Setelah Diputus Golkar?

HEADLINE: Bagaimana Peluang Ridwan Kamil Setelah Diputus Golkar?



Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik. Adagium itu saat ini dirasakan betul oleh Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang tengah mencari jalan menuju kursi Gubernur Jawa Barat dalam Pilkada Jabar 2018.

Tanpa pemberitahuan apa pun, selembar surat dari DPP Partai Golkar yang muncul Minggu 17 Desember 2017, menyatakan Ridwan Kamil tak lagi diusung partai berlambang beringin itu. Jika diibaratkan sebuah perkawinan, talak tiga sudah dijatuhkan Golkar kepada pria yang karib disapa Emil.

Keakraban dan senyum semringah mereka yang hadir di Kantor DPP Golkar Jakarta saat nama Ridwan Kamil dideklarasikan, Kamis 9 November 2017, kini terlupakan sudah. Namun, Emil belum habis. Sebaliknya, tiga parpol pendukung yang tersisa menyatakan tetap solid mendukung.

"Tidak ada efek yang sangat signifikan terkait dicabutnya dukungan Golkar ke Ridwan Kamil. Dengan Nasdem, PKB dan PPP kan sudah cukup, Pak Ridwan Kamil bisa bergerak," tegas Ketua DPW Partai Nasdem Jabar, Saan Mustopa kepada Liputan6.com, Senin (18/12/2017) petang.

Dia mengatakan, ada atau tidaknya Partai Golkar (17 kursi) masuk ke parpol koalisi pengusung, tidak berpengaruh terhadap pencalonan Emil di Pilkada Jabar 2018.

Tiga parpol yang tersisa, yaitu Partai Nasdem (5 kursi), Partai Kebangkitan Bangsa (7 kursi), dan Partai Persatuan Pembangunan (9 kursi) sudah cukup memenuhi syarat minimal 20 kursi untuk bisa mengajukan pasangan calon di Pilkada Jabar 2018.

"Kan jauh sebelum Golkar memberikan dukungan untuk koalisi mengusung Ridwan Kamil, sudah cukup kursinya untuk bisa mendaftar, jadi tak ada yang berubah," ujar Saan.

Bahkan, dia mengaku optimistis melihat popularitas dan elektabilitas Emil yang terus meningkat berdasarkan rilis sejumlah lembaga survei.

"Sebelum Golkar bergabung kan elektabilitas Emil naik terus. Jadi Golkar bergabung atau tidak itu tidak ada kaitan dengan elektabilitas Elmil. Kita tidak khawatir dengan Golkar yang mencabut dukungan itu," beber Saan.

Hal senada juga diutarakan Wakil Sekjen PKB Daniel Johan. Menurutnya, tak ada yang berubah di antara parpol pengusung Emil setelah Golkar mencabut dukungan. "Tetap kuat dong," tegas Daniel saat dihubungi Liputan6.com.

Wakil Ketua Komisi IV DPR ini juga tetap optimistis terhadap peluang Emil memenangkan Pilkada Jabar 2018. Dia meyakini, sosok serta kiprah Emil sudah sangat dikenal oleh warga Jabar.

"PKB optimistis. Apalagi PKB sudah melakukan cara door to door (di Jabar) untuk meningkatkan elektabilitas Emil," ucap Daniel.

Demikian pula dengan PPP. Melalui Wakil Sekjen Achmad Baidowi, partai ini meyakini posisi Emil tetap aman menuju kursi Gubernur Jabar.

"Koalisi Nasdem, PKB dan PPP sudah memenuhi syarat untuk mendaftarkan Ridwan Kamil," jelas Baidowi.

Anggota Komisi II DPR ini mengakui, kader PPP di Jabar tengah meminta evaluasi dukungan terhadap Emil. Namun, sejauh ini partai berlambang Kabah tersebut masih dalam sikap mendukung.

"Kita sampai saat ini masih mendukung Emil. Soal dukungan nanti ada evaluasi, hasilnya bisa mencabut atau justru menguatkan dikungan untuk Emil," ujar Baidowi.

Terkait pasangan yang akan mendampingi sebagai bakal calon wakil gubernur, tiga parpol pengusung punya suara berbeda. Nasdem dan PKB, misalnya, menyerahkan sepenuhnya pada pria kelahiran 4 Oktober 1971 itu untuk memilih calon yang cocok.

"Nasdem tidak pernah mempersoalkan pasangan untuk Emil. Siapa pun yang diputuskan bisa membantu ya kita dukung. Dari awal sikap Nasdem seperti itu, siapa pun yang dipilih kita dukung," kata Saan Mustopa.

Pun dengan PKB. "Emil bisa memilih sosok yang bisa memperkuat suara di basis utara Jabar, selain yang bisa full membantu tugas-tugas gubernur nantinya," ucap Daniel Johan.

Lain halnya dengan PPP, yang justru memiliki opsi mengusung Emil di Pilkada Jabar asalkan memilih pendamping dari kader PPP.

"Saat memutuskan dukungan ya dengan syarat wakilnya adalah kader PPP. Saat itu Emil menyanggupi. Ngapain kita ungkit-ungkit kalau tidak menyanggupi. Ini parpol kan yang dilihat komitmennya," jelas Baidowi.

Sementara itu, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago melihat peluang Emil untuk maju di Pilkada Jabar 2018 tetap terbuka lebar dengan adanya dukungan tiga parpol tersisa.

"Ridwan Kamil tetap punya peluang. Kalau PPP atau PKB ikut menarik dukungan, itu baru lampu merah buat dia," ujar Pangi kepada Liputan6,com.

Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center dan Dosen UIN Jakarta ini, sekarang Emil harus memilih calon wakil gubernur dari tiga partai pengusung. Namun, langkah ini punya konsekuensi logis. Partai yang kadernya tidak dipilih bisa jadi akan mengevaluasi dan menarik dukungan.

"Hanya Nasdem satu-satunya partai yang menyerahkan kepada Ridwan Kamil untuk memilih wakilnya. Jadi sebetulnya Ridwan Kamil belum aman," pungkas Pangi.

Soal sosok pendamping ini agaknya bukan perkara mudah. Apalagi Partai Golkar dalam surat putus untuk Ridwan Kamil menegaskan alasan dicabutnya dukungan, yaitu lantaran tak ditanggapinya keinginan partai itu agar Emil segera mendeklarasikan kader Golkar sebagai cawagub.

Surat Putus untuk Emil

Mengenakan kemeja batik bermotif biru-putih, bakal calon gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tampak semringah saat berkunjung ke Kantor LKBN Antara, Kamis 14 Desember 2017 lalu. Sambil melihat-lihat sejumlah ruangan di Wisma Antara, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dia juga menjawab sejumlah pertanyaan.

Saat ditanyakan tentang sosok bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya di Pilkada Jawa Barat 2018, pria yang karib disapa Emil ini menjawab dengan bersemangat.

"Saya saat ini sedang memilih calon pasangan saya berdasarkan beberapa kriteria. Insyaallah akan diumumkan pada hari Senin (18 Desember 2017) mendatang," kata Emil.

Emil mengatakan, dia memilih calon pasangannya setelah mencapai kesepakatan dengan partai-partai politik pengusung. Tidak jelas, apakah kesepakatan itu juga melibatkan Partai Golkar sebagai salah satu partai pengusung atau tidak.

Yang pasti, sehari sebelum Emil mengumumkan calon pendampingnya, Partai Golkar menyatakan mencabut dukungan untuk Emil maju di Pilkada Jabar 2018. Pencabutan dukungan itu tertuang dalam surat berjudul "Pencabutan Surat Pengesahan Pasangan Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat".

Dalam surat yang diterima Liputan6.com, Minggu (17/12/2017) siang, pencabutan dukungan untuk Ridwan Kamil dilakukan berdasarkan tiga hal.

Pertama, berdasarkan surat DPP Partai Golkar Nomor: R-485/Golkar/X/2017 tertanggal 24 Oktober 2017 tentang rekomendasi/pengesahan pasangan calon kepala daerah Provinsi Jawa Barat atas nama H Mochammad Ridwan Kamil dengan Daniel Mutaqien.

Kedua, surat DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat Nomor B: 116/Golkar/XII/2017 tertanggal 16 Desember 2017 tentang laporan Pilkada Jawa Barat.

Ketiga, petunjuk pelaksanaan DPP Partai Golkar Nomor: Juklak-6/DPP/Golkar/VI/2016 tanggal 15 Juni 2016 tentang penetapan pasangan Calon Gubernur, Bupati dan Wali Kota dari Partai Golongan Karya.

Surat tersebut ditandatangani Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan Idrus Marham selaku Sekretaris Jenderal Partai Golkar.

Dalam surat itu juga disebutkan alasan Golkar mencabut dukungan untuk Emil. Menurut Partai Golkar, Emil tak kunjung merespons surat yang dikirimkan terkait penetapan pasangan bakal calon wagub Daniel Mutaqien. Dalam surat itu Emil diberi batas waktu hingga 25 November 2017.

"Namun, sampai dengan batas waktu yang ditentukan, yaitu tanggal 25 November 2017 (bahkan sampai dengan saat ini), Sdr M Ridwan Kamil belum memutuskan calon wakil kepala daerah sebagaimana surat nomor: R-485/Golkar/X/2017," tulis surat tersebut.

Hal inilah yang membuat Golkar akhirnya memutuskan untuk menarik surat dukungan untuk Emil dan Daniel maju di Pilkada Jabar 2018.

"Dalam rangka menjaga kehormatan dan marwah partai serta kepentingan Partai Golkar, DPP Partai Golkar memutuskan untuk mencabut dan menyatakan tidak berlaku surat DPP Partai Golkar Nomor R-485/Golkar/X/2017 tertanggal 24 Oktober 2017," demikian tulisan di surat tersebut.

Emil sendiri saat ditanyakan tentang dicabutnya dukungan itu tak banyak berkomentar. Alasannya, dia belum menerima dokumen resmi dari Partai Golkar.

"Infomasi itu datang dari bentuknya jpeg (foto), kan begitu ya, dari HP ke HP. Jadi per sekarang saya belum menerima secara resmi," kata Emil di Pendopo Kota Bandung, Senin (18/12/2017).

Dia mengatakan, hal tersebut merupakan masalah yang penting terkait pencalonannya di Pilkada Jabar 2018. Oleh karena itu, dia akan berkomentar lebih lanjut setelah menerima dokumen resmi.

"Nanti saya akan mengonfirmasi ke Pak Sekjen (Golkar) apakah benar tidaknya. Kalau sudah nanti ada kabar, pastilah media juga di-update. Jadi statement saya terkait isu Golkar ini adalah begitu," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyatakan, pencabutan dukungan terhadap Emil sudah melalui kajian mendalam. Dia juga menepis dugaan adanya timbal balik dalam putusan tersebut.

"Kalau timbal balik itu sesudah munas, tapi ini kan sebelum munas," ucap Airlangga di JCC Senayan, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Lantas, apa yang akan dilakukan Emil setelah ditinggal parpol penyumbang kursi terbanyak di koalisi yang mengusung dirinya itu?

Emil Usai Diputus Beringin

Sikap tenang memang menjadi ciri khas Wali Kota Bandung ini. Bahkan, ketika masalah datang mendera, dia masih kalem dan berbicara secara terukur. Termasuk ketika Partai Golkar memutuskan mencabut dukungan untuk dirinya maju di Pilkada Jabar 2018.

Lihat saja ketika surat DPP Partai Golkar yang mencabut dukungan terhadap dirinya beredar di media sosial, Minggu siang 17 Desember 2017, Emil malah menulis kalimat pamitan di akun Instagram miliknya @ridwankamil.

"Warga Bandung tercinta, jangan lupa 27 Juni 2018 pemilihan Walikota Bandung 2018-2023. Teliti rekam jejak calon yang disuka. Jangan salah memilih biar tidak kecewa. Tiap walikota tentunya punya gaya berbeda. Yang penting kerjanya terpercaya warga. Selamat memilih walikota yang baru," tulis Emil.

"Walau saya sendiri pamit mundur, masih ada 6 trilyun rupiah untuk mendanai program di tahun 2018 untuk finalisasi janji-janji politik saya yang tersisa sd september 2018. Semoga Kota ini selalu juara dan dijaga Allah swt. Hatur Nuhun," pungkas dia.

Ditemui di Pendopo Kota Bandung, Senin siang, Emil menegaskan tetap bersemangat melaju di Pilkada Jabar 2018 meski diterpa banyak isu negatif. Selain pencabutan dukungan oleh DPP Partai Golkar, beredar pula kabar PPP yang akan mencabut dukungan.

Dia mengatakan, tiga partai minus Golkar yang saat ini mendukungnya untuk menjadi Gubernur Jawa Barat sudah solid. Apabila Golkar mencabut dukungan, lanjut dia, tak akan mengurangi jumlah minimal kursi yang disyaratkan untuk maju di Pilkada Jabar 2018.

"Saya nggak mau berandai-andai dulu, karena itu pertanyaannya sangat berandai-andai. Jadi saya sampaikan, tiga partai yang sudah ada ini kan solid ke saya. Kalau Golkar nggak ada, saya sudah cukup. PPP, Nasdem, PKB, jumlahnya sudah 21 (kursi)," kata Emil.

Disinggung mengenai sikap dia atas pencabutan dukungan dari parpol pendukung, dia mengatakan akan tetap santai. Dia pun optimistis akan ada solusi dan jalan keluar dari permasalahan tersebut.

"Saya mah santai, jangan jadi politikus atau pemimpin kalau kagetan atau baperan. Karena setiap saat ada breaking news yang disukai dan tidak disukai," tegas Emil.

Dia juga membantah sedang galau lantaran kabar tak sedap dari Partai Golkar itu.

"Galau? Lihat atuh wajah saya semangat begini, insyaallah ada jalan keluar. Ini wajahnya wajah sedih nggak? Enggak, saya mah happy happy saja," kata lulusan University of California itu.

Terkait kabar bahwa pencabutan dukungan oleh Golkar karena kurangnya komunikasi, dia juga membantah.

"Alasan mah bisa dicari, media lebih pintarlah. Saya yakin media lebih pinter, betulkah alasan itu? Media cari sendiri, akan ketahuan dan ketemu sebuah kebenaran," kata Emil.

Yang jelas, lanjut dia, segera mungkin pihaknya harus menentukan sosok bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi dirinya. Dia mengaku telah berdiskusi dengan para tokoh Jawa Barat terkait hal itu.

Namun, suami Atalia Praratya itu juga akan mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan partai koalisi pendukunganya, yaitu PKB, PPP, dan Nasdem sebelum memilih bakal cawagub.

Enam nama kandidat telah dikumpulkan dan masih dalam pertimbangan Emil untuk menentukan pilihan. Enam nama tersebut yaitu Daniel Mutaqien (Golkar), Maman Imanulhaq (PKB), Saan Mustopa (Nasdem), Uu Ruzhanul Ulum (PPP), Syaiful Huda (PKB), dan Asep A Maoshul (PPP).

"Jadi lusa (Rabu 20 Desember 2017) saya akan mengumumkan dan silakan datang kembali. Hari ini dan besok saya akan mengkomunikasikan opini tentang calon wakil kepada partai koalisi. Tidak lepas dari enam nama tadi," ucap Emil.

Layak untuk ditunggu nama siapa akhirnya yang dipilih Emil untuk jadi pendamping dalam kontestasi Pilkada Jabar 2018. Apalagi, nama Daniel Mutaqien masih masuk dalam radar penilaian Emil.

Hasil survei Elsid, terdapat tiga nama yang menempati posisi teratas sebagai sosok yang pas jadi cawagub Emil, yaitu Uu Ruzhanul Ulum (PPP) dengan raihan 19,8 persen, kemudian Daniel Mutaqien (Golkar) dengan 12,3 persen, dan Syaiful Huda (PKB) dengan raihan 9,7 persen.

Jika merujuk pada survei tersebut, tak begitu sulit sebenarnya bagi Emil untuk memilih calon pendamping, meski tanpa calon pendamping dari Golkar sekalipun. Yang sulit itu mungkin melupakan saat diputus Golkar di tengah jalan. Sakitnya tuh di sini.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Keluarga Besar Marga Sun. Powered by Blogger.

Breaking News

KAMI MENYEDIAKAN GAME LIVE CASINO TERBARU DI https://bit.ly/2pLGSsO SILAHKAN DAFTAR YA.. SALAM KEMENANGAN YA BOSKU

Blog Archive