Situs Judi Online dan Artikel Sex Indonesia terpercaya 2019

Selasa, 28 November 2017

Pagelaran Budaya Awali Pertemuan Tingkat Tinggi RI dan China

Pagelaran Budaya Awali Pertemuan Tingkat Tinggi RI dan China


Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan menghelat pergelaran kesenian persahabatan antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat China (Joint Cultural Performance).

Acara yang diselenggarakan di Teater Ciputra Artpreneur itu menampilkan beragam pertunjukan kesenian populer dari kedua negara.

Pergelaran seni persahabatan ini diselenggarakan untuk menyambut kehadiran Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Liu Yandong beserta para delegasi sekaligus mengawali rangkaian perhelatan akbar Pertemuan Tingkat Tinggi Ketiga RI – RRT (High Level Meeting, People to People Exchange Mechanism/HLM PEM 2017) yang akan dihelat di Solo pada tanggal 28 November mendatang. Demikian keterangan pers dari Joint Cultural Performance RI-RRC Event yang diterima oleh Liputan6.com pada Senin (27/11/2017)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy dalam sambutan yang disampaikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan beberapa hal.

"Indonesia adalah negara multi-etnis dan multi-kultur. Dasar NKRI adalah 'Bhinneka Tunggal Ika' yang berarti persatuan dalam keanekaragaman," ujar Muhadjir.

"Pemerintah melestarikan keanekaragaman budaya tersebut dengan cara melindungi, mengembangkan, serta memanfaatkannya dengan tetap mempertahankan ciri khas dan keunikan masing-masing. Keunikan dan keragaman tersebut kita saksikan malam hari ini melalui penampilan seni dari pulau Sumatera, Jawa, dan Bali serta China," tambahnya.

Lebih jauh Mendikbud menjelaskan bahwa kerja sama kebudayaan Indonesia dan China telah berlangsung lama dan intens.

Pemerintah kedua negara secara aktif melakukan koordinasi dan peningkatan people-to-people contact melalui pertukaran, pertunjukan, pameran maupun pelatihan dalam lingkup kesenian, museum, cagar budaya, kuliner, dan warisan budaya.

Melalui pertunjukan persahabatan ini, diharapkan dapat dijadikan upaya memperluas pengetahuan dan wawasan budaya baik bagi insan seni pertunjukan, komunitas budaya, akademisi atau mahasiswa, pemerintah maupun masyarakat pada umumnya.

Pergelaran Kesenian Persahabatan (Joint Cultural Performace) antara RI – RRC menampilkan kolaborasi istimewa berupa pertunjukan pencak silat dan debus serta wushu.

Aksi pencak silat dan debus ditampilkan oleh para seniman Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi). Selain itu juga disuguhkan sejumlah penampilan tari dan lagu populer dari kedua negara antara lain, akrobat putar piring, bola dan gasing, tari Saman Gayo Lues, Samba Sunda, dan angklung.

Sejumlah lagu populer China juga akan dipersembahkan dalam kesempatan baik ini seperti lagu Sunyi Senyap Malam dan Impian Bunga Mawar.

Dari Bali, disuguhkan tari Puspanjali oleh para seniman tari sanggar Ayu Bulan Dance yang dipimpin oleh Ayu Bulantrisna Djelantik serta gamelan Bali yang dimainkan oleh para penabuh dari The Ary Suta Gamelan Center Philharmonic yang dipimpin oleh MF. Murti Haryati.


Share:

Dubes RI Terima Penghargaan Cross of Friendship dari Laos

Dubes RI Terima Penghargaan Cross of Friendship dari Laos


Duta Besar RI untuk Laos, Irmawan Emir Wisnandar, menerima penghargaan Cross of Friendship dari Menteri Luar Negeri Laos, Y.M. Saleumxay Kommasith atas jasanya meningkatkan dan mempererat hubungan kedua negara.

Upacara pemberian penghargaan ini dilakukan di kantor Kementerian Luar Negeri Laos pada 24 November 2017. Demikian seperti Liputan6.com dari kemlu.go.id pada Senin (27/11/2017).

Upacara tersebut sekaligus merupakan perpisahan resmi dari Kemlu Laos terhadap Dubes Irmawan Emir Wisnandar yang akan menyelesaikan tugasnya pada awal Desember 2017.

Menlu Laos dalam sambutannya menyampaikan bahwa selama Dubes Irmawan Emir Wisnandar bertugas di Laos, tercatat sejumlah peningkatan hubungan kedua negara di berbagai bidang seperti meningkatnya saling kunjung pejabat tinggi kedua negara, naiknya nilai perdagangan kedua negara dan kesepakatan di bidang ekonomi, termasuk rencana investasi Indonesia di Laos.

Ada pula penyelenggaraan sejumlah kegiatan dalam upaya peningkatan people to people contact, transaksi bisnis, kesenian dan sosial budaya. Selain itu, terdapat lima MoU antar pemerintah kedua negara dan saling dukung dalam pencalonan di berbagai organisasi internasional.

Duta Besar Irmawan Emir Wisnandar menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Laos. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa hubungan bilateral kedua negara yang telah menginjak usia 60 tahun pada 2017 akan semakin meningkat yang secara signifikan akan membangun kerjasama yang saling menguntungkan antara RI-Laos.

Share:

Bukan Tak Mungkin, Indonesia Tidak Punya Generasi Penerus

Bukan Tak Mungkin, Indonesia Tidak Punya Generasi Penerus


Narkoba menjadi salah satu ancaman yang sangat nyata. Perlahan tapi pasti, narkoba akan membunuh bibit-bibit unggul bangsa Indonesia. Tak kurang dari empat juta orang di negeri ini dalam usia produktif yaitu 10 sampai 59 tahun terkontaminasi narkoba.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Budi Waseso menyebutkan bahwa dari hasil penelitian pada 2016, diperoleh fakta bahwa 1,9% kelompok pelajar dan mahasiswa, atau 2 dari 100 pelajar atau mahasiswa menyalahgunakan narkoba.

Sebagai contoh, diantara 100 mahasiswa atau pelajar Indonesia, 4 orang diantaranya pernah menggunakan narkoba dengan kategori coba pakai. Selain itu, diantara 100 mahasiswa atau pelajar di Indonesia, 2 diantaranya menjadi penyalahgunaan narkoba teratur pakai.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandriatmoko. Ia mengatakan, kalau tidak ditindak dengan tegas narkoba bakal merenggut generasi muda Indonesia.

“Hal ini kalau dibiarkan, bangsa Indonesia akan kehilangan generasi muda,” tutur Sulistiandriatmoko.

Mengenai narkoba, lanjut Sulistiandriatmoko, perlu adanya sinergi atau kerjasama. Tak hanya pemerintah semata, perlu dukungan dari lembaga lainnya, dan tentu masyarakat.

Gayung bersambut, Kominfo sebagai salah satu lembaga pemerintah mendukug penuh penumpasan narkoba di Indonesia. Maka dari itu, pihaknya bekerjasama dengan BNN untuk memberantas narkoba dengan berbagai acara dan sosialisasi dengan masyarakat.

Namun demikian, pemberantasan narkoba bukan hanya pekerjaan BNN. Menurut Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandriatmoko perlu adanya sinergi antar lapisan mulai dari masyarakat sampai ke pemerintah.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Gun Gun Siswadi mengatakan bahwa Indonesia Darurat Narkoba perlu adanya upaya darurat yang perlu ditanggulangi agar masyarakat Indonesia terbebas dari barang haram tersebut. Bahkan, ancaman kehilangan generasi mungkin terjadi di Indonesia.

“Ini merupakan sinergi dengan BNN untuk menumpas narkoba yang ada di Indonesia. Dan kami bekerjasama dengan BNN untuk memberantas narkoba di Indonesia. Caranya, kami membuat sosialisasi ke daerah-daerah Indonesia untuk memberikan pengetahuan mengenai narkoba,” tutur Gun Gun Siswadi usai ditemui Liputan6.com, Rabu (1/11/2017).


Share:

Senin, 27 November 2017

HEADLINE: Lunturnya Mitos Cegah Maut Akibat Erupsi Gunung Agung?

HEADLINE: Lunturnya Mitos Cegah Maut Akibat Erupsi Gunung Agung?


 Gunung Agung kini berstatus Awas. Level tertinggi tersebut ditetapkan mulai Senin 27 November 2017, pukul 06.00 Wita. Sejak malam minggu, dentuman keras terdengar, lava merah pun terpantau dari "Menara Suci Pulau Dewata". 

Lahar dingin juga keluar dari perut gunung tertinggi di Bali itu. Pun dengan abu vulkanik yang dimuntahkannya ke angkasa, yang mengganggu jalur penerbangan dan jadi alasan penutupan bandara di Pulau Dewata. Aktivitas Gunung Agung kemudian dipantau dunia. 

Yang jadi pertanyaan banyak orang, akankah dampak letusan Gunung Agung sedahsyat yang terjadi pada 1963?

Kala itu, 54 tahun lalu, erupsi gunung setinggi 3.031 meter di atas permukaan laut (mdpl), hampir 1.600 orang tewas dan 296 orang luka. Mayoritas korban jiwa jatuh karena awan panas dan dampak aliran piroklastik. 

Efek erupsi Gunung Agung 1963 juga mengglobal. Di belahan lain, Bulan pun gelap. Suhu Bumi menurun gara-gara material erupsi mengurangi intensitas sinar matahari. Sementara itu, kekeringan melanda China bagian selatan.

Sejauh ini, terkait letusan 2017, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum mencatat adanya korban baik luka-luka maupun meninggal dunia.

Mantan Kepala Badan Geologi, Surono menilai, sikap masyarakat di sekitar Gunung Agung, yang kini mempercayai penjelasan ilmiah daripada pertimbangan juru kunci yang didasarkan pada mitos, ikut andil mencegah jatuhnya korban jiwa. 

Pria yang akrab dipanggil Mbak Rono itu menambahkan, masyarakat saat ini cenderuh patuh pada imbauan yang dikeluarkan otoritas setempat, untuk mengungsi dan menjauhi zona bahaya.

"(Saat erupsi 1963) orang percaya supranatural dari juru kunci, karena ingin suatu kepastian yang mudah diperoleh dan mudah dicerna. Untuk mengalihkan ke scientific opinion susah sekali, tapi akhirnya sekarang mereka lebih percaya (hal ilmiah)," ujar Surono saat dihubungi Liputan6.com, di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Menurut dia, dalam hal mitigasi, subjek terpenting adalah masyarakat sekitar zona bencana. "Kalau gunungnya meletus, ya meletus saja. Namun, membuat masyarakat mengerti dengan imbauan otoritas setempat itu yang penting."

Meski begitu, Mbah Rono menilai penetapan status Awas Gunung Agung terlalu dini. Ia khawatir, masyarakat akan terlalu lama berada di pengungsian.

Gunung Agung kali pertama berstatus Awas pada 22 September 2017. "Warning-nya terlalu dini, sejak 22 September warga telah menunggu di pengungsian. Jangan sampai seperti kasus Gunung Sinabung, masyarakatnya lama di pengungsian tapi gunungnya tak meletus," ungkap Mbah Rono.

Apalagi, ada dampak yang bisa ditimbulkan dari keputusan untuk menaikkan status sebuah gunung, termasuk sosial dan ekonomi. Terlebih, daerah sekitar Gunung Agung merupakan wilayah pertanian dan wisata.

"Masyarakat perekonomian rendah sampai tinggi sangat bergantung di situ. Banyak risiko tinggi, seperti bandara ditutup akibat letusan Gunung Agung. Itu yang menuntut akurasi pemantauan gunung api," tambah Mbah Rono.

Erupsi Gunung Agung 1963 Vs Merapi 2010

Mbah Rono mengatakan, di antara banyak gunung api yang di Indonesia, Gunung Agung salah satu yang paling dikhawatirkan jika kembali meletus. 

"Ini gunung besar dengan letusan besar, dengan sejarah erupsi tahun 1963 yang lebih besar dibandingkan letusan Merapi tahun 2010."

Tingginya risiko bencana dari letusan Gunung Agung ini, menurut Surono, tidak hanya karena sejarah kekuatan letusannya. Namun, juga karena banyaknya penduduk yang tinggal di zona bahaya.

"Banyaknya korban letusan 1963 saat itu salah satunya juga karena sebagian warga menolak diungsikan," katanya.

Tim Liputan6.com berusaha menemui Juru kunci Gunung Agung, Jero Mangku Darma. Namun, saat disambangi ke rumahnya yang berada dalam radius berbahaya, ia tak ada di sana.

Saat masih berstatus siaga, Jero telah menyatakan tidak akan meninggalkan kediamannya bila belum mendapat petunjuk bahwa Gunung Agung akan meletus secara dahsyat.

Dia mengaku tidak khawatir bila letusan 1963 kembali terjadi. Saat itu, paman dan kedua orangtuanya lah yang bertugas sebagai juru kunci Gunung Agung.

Alasannya sederhana. Sebagai juru kunci, status yang diembannya secara turun temurun, ia adalah orang terakhir yang akan pergi dari desanya. Jero mengaku, dengan  memilih bertahan, ia bisa menginformasikan kepada warganya tentang kondisi Gunung Agung jelang erupsi besar.

"Saya berdoa dari sini untuk keselamatan umat manusia. Saya kukuh di sini enggak mau saya mundur," ujar Jero.

Sebagai juru kunci, ia mengaku sangat percaya akan mendapatkan petunjuk menjelang Gunung Agung meletus. Namun ia tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Tak Sebahaya 1963?

Letusan Gunung Agung pada 1963 mulai terjadi pada 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Butuh waktu hampir setahun sampai gunung itu kembali tenang. 

Klimaksnya pada 23 Februari 1963. Gunung Agung bergemuruh dan melemparkan bola api. Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, juga abu panas. Aliran lumpur turun deras di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas dan hujan lahar dimuntahkan.

Meski riwayat gawat Gunung Agung berpotensi terulang, Kepala Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memprediksi, letusan dahsyat pada 1963 itu tidak akan terjadi pada 2017 ini. Meski, erupsi besar masih mungkin terjadi setelah ini. 

"Kalau dari erupsinya kemungkinan tidak sebesar tahun 1963, mengingat energi ada di dalam dapur magma tidak sebesar 1963. Pada 1963 kolom letusan hingga 20 km, sekarang tidak sampai," ungkap Sutopo kepada Liputan6.com.

Kemudian, jelas Sutopo, dari tinggi letusan materialnya dan dampak yang ditimbulkan, juga tidak sehebat saat letusan 54 tahun lalu.

Kondisi masyarakatnya juga berbeda karena pada tahun 1963 mereka tidak mendapatkan informasi peringatan dini.

"Saat itu juga peralatan belum banyak, jalur komuniasi juga belum sebagus sekarang. Sekarang lebih baik dan masyarakat juga sudah lebih baik. Jadi sampai saat ini belum ada korban meninggal dan jangan sampai ada," kata Sutopo.

Ia mengatakan, sejak Gunung Agung meletus pertama kali sejumlah antisipasi aktif telah dilakukan. Aksi itu berdampak positif, buktinya belum adanya korban jiwa.

"Kami dengan masyarakat telah terlatih, sehingga saat bencana sudah tahu cara menyelamatkan diri, dan pastinya tidak panik," ujar Sutopo.

Saat ini ada 22 desa dengan radius 10 km dari titik bencana terpapar dampak meletusnya Gunung Agung. Seperti Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Dudat Utara, Amertha Bhuana, dan Sebudi.

BNPB mengimbau, agar masyarakat memperhatikan lingkungan sekitar agar tetap berada di kawasan yang aman. "Kurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker. Kedua, harus rajin mengurangi pasir yang ada di atap (rumah)," imbau Sutopo. Yang terakhir penting dilakukan, agar rumah warga tak roboh. 

Sebelumnya, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) I Gede Suantika menyatakan, letusan Gunung Agung yang terjadi pada Minggu 26 November 2017 memiliki ‎Volcanic Explosivity Index (VEI)‎ atau indeks letusan berada di antara level 4 dan 5.

"Ini sama dengan tahun 1963. VEI‎-nya itu antara 4 atau 5," ujar Suantika.

Ia memaparkan, penentuan indeks letusan berada di level 5 merupakan hasil analisis berbagai hal menggunakan teknologi yang dimiliki PVMBG. "Berdasarkan alat-alat yang kita miiki, ketemu angka itu," ucap dia.

Radius bahaya pun berubah dari 6 kilometer menjadi 8 kilometer dengan zona perluasan dari 7,5 kilometer menjadi 10 kilometer ke arah utara-timur laut, tenggara-selatan dan barat daya‎. "

Terkait penanganan bencana letusan Gunung Agung, ia sependapat bahwa kondisi dulu beda dengan saat ini.

Pada 1963, teknologi pemantauan gunung api belum secanggih saat ini. "Minim sekali peralatan. Baru dipasang peralatan setelah letusan. Itu mungkin salah satu penyebab terjadinya banyak korban (pada 1963)."

Kalau sekarang, lanjut Suantika, semua teknologi mitigasi sudah dimiliki PVMBG. Sepanjang warga mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG, diyakini tidak akan jatuh korban. "Kecuali kalau ada yang bandel," tegas dia.


Share:

Gunung Agung Awas, Basarnas Siap Kosongkan Zona Bahaya dari Warga

Gunung Agung Awas, Basarnas Siap Kosongkan Zona Bahaya dari Warga


Status Gunung Agung telah dinaikkan menjadi awas atau level IV dari sebelumnya siaga atau level III. Zona bahaya pun berubah dari radius 6 kilometer dengan sektoral 7,5 kilometer menjadi radius 8 kilometer dengan sektoral 10 kilometer. Ada 17 desa yang masuk dalam zona Kawasan Rawan Bahaya (KRB) III. Wilayah itu harus streril dari aktivitas manusia.

Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) bertekad mengosongkan zona bahaya Gunung Agung. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Kantor SAR Denpasar, Ketut Gede Ardana.

Dalam kerangka tugas berat itu, Ardana mengaku telah menambah kekuatan dengan bantuan tim rescue dari Kantor SAR Mataram sebanyak 21 orang dan alat utama berupa tiga unit truk angkut personel, dua unit rescue truk serta dua unit motor trail. Tim SAR yang berada di Posko Utama Tanah Ampo, Pos Aju Selat, Pos Aju Rendang, Pos Aju Jasri dan Pos Aju Les juga menambah kekuatannya.

Ardana turun langsung ke lokasi yang terdampak untuk mengawal evakuasi. "Tim SAR gabungan harus bisa mengosongkan Kawasan Rawan Bencana (KRB), diutamakan yang berada di KRB III," kata Ardana di Denpasar, Senin (27/11/2017).‎

Ia meminta warga kooperatif untuk bersedia dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Seluruh tim SAR gabungan siaga 24 jam dan segera bergerak jika ada permintaan untuk evakuasi.

"Yang kami laksanakan sudah sesuai prosedur. Jam berapapun permintaan dari warga pasti akan segera ditindak lanjuti, 24 jam siap melayani masyarakat," ucap dia.

"Banyak lansia dan balita yang harus dijadikan prioritas utama untuk dievakuasi dari bahaya Gunung Agung," imbuh Ardana.

Bagikan Masker

Ia melanjutkan, ‎sebagian masyarakat telah melakukan evakuasi mandiri sejak Sabtu 25 November 2017 dan juga percepatan evakuasi oleh Basarnas bersama potensi SAR lainnya. Mereka terus bergerak di lapangan melakukan evakuasi dari pagi hingga dini hari.

Di sela waktu tersebut, masyarakat juga diberikan masker untuk menghindari bahaya abu vulkanik, yang jika terhirup dapat mengganggu kesehatan.

"Selain membantu evakuasi, kami juga memperhatikan risiko terdampak karena abu vulkanik, maka juga dibagikan masker pelindung pernafasan kepada warga," ujar Ketut Ardana.

Sampai saat ini, Basarnas telah mengerahkan 8 unit truk angkut personel, 3 unit rescue car dan 8 unit motor trail. Dari keseluruhan pengerahan tersebut belum terhitung kendaraan operasional yang dimiliki potensi SAR lainnya, di antaranya dari TNI/ Polri, BPBD, Pemadam Kebakaran Karangasem, PMI serta relawan lainnya.‎


Share:

Menpar Arief Yahya Imbau Wisatawan Bali untuk Tidak Panik

Menpar Arief Yahya Imbau Wisatawan Bali untuk Tidak Panik


Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengimbau wisatawan mancanegara maupun nusantara yang sedang berlibur di Bali untuk tetap tenang. Tidak perlu panik.

“Soal Bandara Internasional Ngurah Rai Bali yang tutup selama 18 jam, kami sudah meminta industri untuk memberikan diskon khusus. Mereka akan memberikan potongan harga di atas 50% bagi wisatawan yang mengalami cancellation, yang menggunakan LCC dimohon juga tidak ada cancellation fee, karena force majeur, bencana alam,” ujarnya.

Bagaimana jika mereka harus segera meninggalkan Bali?

“Kami bersama Kemenhub dan Pemprov Bali sudah punya skenarionya. Untuk mengantarkan wisatawan sampai ke bandara internasional terdekat atau sampai ke penyeberangan Gilimanuk,” ucap Arief.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) menyiagakan angkutan bus dan penyeberangan di Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setyadi, di Jakarta pada Senin (27/11/2017).

“Kami selalu memantau kondisi terakhir aktivitas Gunung Agung dan untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, saya sudah perintahkan kepada Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah XII Bali dan NTB untuk menyiagakan angkutan bus dan penyeberangan untuk melayani penumpang yang terdampak penutupan Bandar Udara,” kata dia.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan resiko bencana, pihaknya tidak hanya berkoordinasi dengan Otoritas Bandara (Otban) Wilayah IV Bandara I Gusti Ngurah Rai, tetapi juga dengan pihak Kepolisian, DAMRI, dan Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA).

“Terkait status Gunung Agung yang telah dinaikkan dari Siaga (level 3) menjadi awas (level 4), terhitung mulai hari ini (27/11) pukul 06.00 WITA, kami bersama DAMRI dan Organda menyiagakan 100 armada bus, baik reguler maupun pariwisata, dari Bandara I Gusti Ngurah Rai ke Teminal Tipe A Mengwi Bali dan ke pelabuhan penyeberangan Padang Bai untuk para penumpang dan turis yang terdampak penutupan Bandara. Kami juga sudah minta kepada Pelabuhan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk dan Padang Bai-Lembar untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan,” ujarnya.

Budi menyampaikan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak maskapai melalui Otban I Gusti Ngurah Rai untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat.

“Penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan, baik melalui Bandara Lombok Praya atau menuju ke Jawa harus kita fasilitasi, jangan sampai mereka terlantar akibat tidak ada angkutan yang siaga mengangkut mereka,” tutupnya.

Share:

Aksi Bela Rohingya Dipindah, 2.200 Polisi Tetap Jaga Borobudur

Aksi Bela Rohingya Dipindah, 2.200 Polisi Tetap Jaga Borobudur


Meski tegas melarang aksi unjuk rasa Bela Rohingya di Candi Borobudur, Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) tetap menyiagakan pasukan untuk menjaga situs warisan dunia itu. 

Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono menyebut pihaknya menyiapkan 22 SSK atau sekitar 2.200 anggota polisi ditambah 3 SSK atau sekitar 300 personel TNI untuk menjaga kawasan Candi Borobudur selama tiga hari.

"Polda Jateng akan melakukan Siaga 1 selama tiga hari Kamis (7/9/2017), Jumat (8/9/2017), dan Sabtu (9/9/2017). Kami pastikan tidak ada aksi, kami tidak pernah memberikan izin," katanya. Ia menambahkan, semua akses untuk unjuk rasa akan ditutup pada Selasa, 5 September 2017.

Ia mengatakan, kawasan Candi Borobudur steril dari aksi. Pengamanan oleh kepolisian akan dilakukan di ring 2 atau sekitar Borobudur dan perbatasan daerah.

"Hasil rapat terakhir, saudara Nanang (perwakilan FKUB) menyampaikan telah membatalkan aksi di Candi Borobudur," kata Kapolda.

Untuk keamanan, semua Kapolres di jajaran Polda Jateng serta polda lain diminta memberikan pemahaman kepada warga, khususnya kepada kelompok maupun ormas yang akan menggelar aksi di Candi Borobudur. Pemahaman dan pendekatan itu juga akan menggandeng tokoh ulama.

"Sudah kami minta seluruh Kapolres dan tokoh ulama untuk memberikan pemahaman dan pendekatan tentang efektivitas aksi. Jika aksi dilakukan di Candi Borobudur, tidak ada dampak langsung untuk Rohingya," kata Kapolda.

"Kami juga gandeng bupati dan wali kota di 35 kabupaten/kota di Jateng agar pada Jumat (8/9/2017) melaksanakan kegiatan di masjid agung masing-masing Kabupaten/Kota," imbuh Condro.

Meski demikian, Condro menekankan bahwa masjid bukanlah tempat aksi, melainkan tempat ibadah dan salat. Karena itu, kegiatan yang dilakukan nanti bisa berbentuk salat Jumat, doa bersama, salat gaib, dan penggalangan dana.

"Tidak ada orasi di masjid karena itu termasuk aksi. Tokoh ulama, FKUB, Forkominda akan hadir di masing-masing Masjid Agung," ujarnya.

Condro menambahkan, Candi Borobudur merupakan situs dunia dan ditetapkan sebagai objek vital nasional. Keberadaan Candi Borobudur juga menghidupi masyarakat banyak. 

"Di situ menghidupi masyarakat banyak, mulai tukang delman, penjual cendera mata, dan lainnya. Semua berharap dengan adanya objek wisata tersebut. Apalagi, Indonesia sedang mendorong peningkatan wisata," paparnya.

Oleh karena itu, kepolisian tetap memastikan kegiatan wisata tidak terganggu. Pasalnya, Candi Borobudur merupakan destinasi wisata bagi wisatawan domestik dan mancanegara. 

"Untuk kegiatan wisata akan dikoordinasikan dengan pengelola. Kami tetap berharap tidak ada yang melakukan aksi di sana sehingga wisatawan tidak terganggu. Lagi pula, Candi Borobudur itu kan juga tempat ibadah," ujar Condro.


Share:

Identitas Korban Kecelakaan Beruntun Dipicu Truk Kontainer Maut

Identitas Korban Kecelakaan Beruntun Dipicu Truk Kontainer Maut


Tiga alat berat dikerahkan untuk mengevakuasi para korban di lokasi kecelakaan truk kontainer maut ruas Jalan Soekarno Hatta KM 32 jalan Bawen, Kabupaten Semarang. Hingga Rabu (30/8/2017), korban luka hingga masih menjalani perawatan di RS Ken Saran.

Kecelakaan itu diduga terjadi setelah truk kontainer mengalami rem blong usai melewati turunan Bulog Bawen. Truk kontainer bernopol H 1636 BP langsung menghantam truk boks muatan sepatu bernopol H 1847 HD dan truk muatan kayu bernopol H 1578 RG.

Tidak hanya menghantam dua truk, kontainer yang oleng juga menabrak enam motor serta lima warung di depan Masjid Assalam PT Apac Inti Corpora Bawen. Besarnya ukuran kendaraan yang terlibat kecelakaan membuat Sat Lantas Polres Semarang bersama anggota Unit Laka Ambarawa mengerahkan tiga derek ditambah satu forklift, satu ekskavator kecil, dan dua buldozer besar.

Berdasarkan pemeriksaan di lapangan, dua korban tewas yang berhasil diidentifikasi bernama Zamsinah (72), warga Merakrejo RT 01 RW VI Bawen, dan Johan Wijaya, warga Tambakboyo Ambarawa. Sementara, tiga korban tewas lainnya belum dketahui identitasnya.

Sedangkan, korban luka yang dievakuasi ke Rumah Sakit Ken Saras yakni Sriyono (32), warga Jatiraya Banyumanik Kota Semarang; Teguh Mugiono (58), warga Tambakboyo Ambarawa; Arafiq (41), warga Truko Kendal; Sumiyati (53), warga Tambakboyo Ambarawa; Udi Triyanto, warga Mijen Kota Semarang; dan Anto Sulistyo (36), warga Sendang Bringin, Kabupaten Semarang.

"Tiga korban tewas yang belum diketahui identitasnya, dua orang laki-laki dan satu perempuan," kata Humas Rumah Sakit Ken Saras, Elsih Lestanti.

Kapolres Semarang, AKBP Vincentius Thirdy Hadmiarso menjelaskan korban meninggal dunia ada tiga orang, tiga orang luka berat, dan lima orang luka ringan.

"Evakuasi dibantu BPBD Kabupaten Semarang untuk mencari korban yang diduga masih berada di reruntuhan bangunan," ujar Kapolres sambil menjelaskan kontainer juga menabrak beberapa warung makan di pinggir jalan.

"Pengurus kontainer sudah dikontak, dan segera mengevakuasi isi berikut kontainernya," ucap Kapolres menambahkan.


Share:

Minggu, 26 November 2017

Bandara Ngurah Rai Bali Masih Nihil Debu Vulkanik Gunung Agung

Bandara Ngurah Rai Bali Masih Nihil Debu Vulkanik Gunung Agung


Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Kelas I Ngurah Rai, Herson menjelaskan, hingga kini operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ‎masih berjalan normal meski Gunung Agung meletus.

Kendati begitu, ia mengakui memang ada beberapa maskapai penerbangan yang melakukan pembatalan terbang menuju Bali akibat Gunung Agung meletus.

"T‎erutama untuk penerbangan internasional, untuk domestik semuanya lancar. Airlines yang cancel yakni KLM Royal Dutch Airlines, Air Asia Virgin dan Jetstar," tutur Herson‎, Minggu 26 November 2017.

Sementara untuk penumpang yang mengalami pembatalan terbang akibat Gunung Agung meletus, Herson memastikan mereka mendapat pelayanan maksimal.

"Semua dilayani dengan baik. Ada yang sebagian di hotel, ada yang pindah ke maskapai lain dan berangkat semalam juga," katanya.‎

Dia memastikan, bandar udara sampai saat ini operasional aman. Namun, pihaknya masih memantau kegiatan paper test.

Ia melanjutkan, ‎paper test itu ditempatkan di beberapa titik. Hingga pukul 09.00 Wita masih dinyatakan nihil untuk abu vulkanik.

"Namun khusus dari Otoritas Bandara selama belum dinyatakan tutup, di sini kita akan terus berkordinasi, karena abu vulkanik ini adalah dasar dari mengganggu keselamatan penerbangan," ujarnya.

Terus Berkoordinasi

‎Sementara untuk buka tutup bandara, ia mengaku akan terus berkoordinasi dengan stakeholer terkait mengenai hal itu. Perlu beberapa syarat juga untuk melakukan penutupan bandara.

‎"Apakah di lantasan ada keretakan, apakah jalur pesawat tertutup abu vulkanik. Sepanjang itu belum ya, kita tidak akan tutup. Dari poin ini, tutup dan bukanya kita akan terus berkoordinasi antara stakeholker yang ada di bandara," ujar Herson.‎ 

Share:

Gunung Agung Meletus, Desa Ini Sepi Ditinggal Penghuninya

Gunung Agung Meletus, Desa Ini Sepi Ditinggal Penghuninya


Letusan freaktif yang terjadi terus-menerus di Gunung Agung membuat warga di sekitar kawasan gunung itu mengungsi. Tak terkecuali di Desa Sebudi.

Pantauan Liputan6.com, Minggu (26/11/2017) di lokasi, suasana di desa tersebut sudah sunyi. Tak ada kendaraan yang hilir mudik. Bahkan, ada kendaraan yang dibiarkan terparkir di dekat rumah.

Sementara itu, di rumah penduduk juga sudah banyak menghidupkan lampu depannya, walaupun hari masih siang. Namun, pagar rumah sudah ditutup. Hanya anjing yang dibiarkan ada.

Di sekitar Desa Sebudi juga masih terlihat daun-daun yang terkena abu vulkanik Gunung Agung. Salah seorang warga yang sempat melihat keadaan rumahnya membenarkan para penduduk sudah meninggalkan kediaman mereka.

"Ini mau ngambil sesuatu dulu di rumah. Iya memang, sudah ngungsi dari jam 01.00 Wita (Minggu dini hari) tadi. Pada takut, soalnya hujan abu tipis-tipis," ucap Wayan Simpen di lokasi.

Dia pun menyebut, warga menyebar untuk mengungsi. Warga tidak hanya di satu titik.

"Nyebar, Pak. Saya di Tebula, ada juga yang di Klungkung. Kalau punya saudara di Singaraja, di sana mereka," tutur Wayan Simpen.

Sementara itu, di desa dekat Sebudi, seperti Desa Pakraman Selat, kemudian Amerta Buana, juga terlihat sedang bersiap-siap mengungsi. Ada yang memindahkan barangnya ke dalam truk. Ada juga yang menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Gunung Agung terus mengalami erupsi sejak erupsi freatik pertama pada Sabtu (25 November 2017) pukul 17.30 Wita. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, erupsi terakhir terjadi Minggu (26/11/2017).

Abu Vulkanik Mengarah ke Timur

Peristiwa itu berlangsung pada pukul 05.05 Wita. Sutopo mengungkapkan, tinggi kolom abu kelabu gelap bertekanan sedang mencapai 2.000 meter. Selanjutnya, ketinggian mencapai 3.000 meter pada pukul 05.45 Wita.

Pukul 06.20 Wita tinggi erupsi Gunung Agung mencapai 3.000 meter hingga 4.000 meter dari puncak mengarah ke tenggara dengan kecepatan 18 km per jam.

"Analisis sebaran abu vulkanik dari satelit Himawari BMKG menunjukkan bahwa sebaran abu mengarah ke Timur hingga Tenggara menuju ke daerah Lombok," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/11/2017).

Ia menjelaskan, sifat dan arah sebaran abu vulkanik tergantung dari arah angin. Hujan abu dilaporkan terjadi di beberapa tempat seperti di Desa Duda Utara, Desa Duda Timur, Desa Pempetan, Desa Besakih, Desa Sideman, Desa Tirta Abang, Desa Sebudi, Desa Amerta Bhuana di Klungkung.

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) menaikkan peringatan penerbangan dari Orange (oranye) menjadi Red (merah).

Status Gunung Agung sendiri masih Siaga (level 3). Sutopo mengatakan, masyarakat direkomendasikan berada di luar radius 6-7,5 km dari puncak kawah.

"Masyarakat yang masih ada di dalam radius berbahaya segera mengungsi dengan tertib," ujar Sutopo.


Share:

Gunung Agung Meletus, Warga Ungsikan Ternak ke Penitipan

Gunung Agung Meletus, Warga Ungsikan Ternak ke Penitipan


- Gunung Agung kembali meletus, Minggu pagi tadi. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, abu vulkanik Gunung Agung sudah mencapai ketinggian 2.500 sampai 3.000 meter atau lebih tinggi dari letusan sebelumnya, 21 November 2017.

Kondisi Gunung Agung saat ini membuat warga cemas. Selain mengungsikan diri, sejumlah warga juga memindahkan hewan ternaknya. Salah satunya di posko pengungsian hewan ternak di Besakih, Karangasem.

Salah satu penjaga posko pengungsian hewan Wayan Suba mengatakan, total kurang lebih ada 286 sapi dan kerbau yang sudah dipindahkan. Jumlah ini dipresdiksi bisa bertambah lagi.

"Baru dinomori sekitar 286. Bisa lebih. Bisa sampai 400 ekor di sini," ucap Wayan di lokasi, Rabu (26/11/2017).

Dia menuturkan, posko penitipan hewan Gunung Agung, tidak hanya satu titik. Pasalnya, tidak akan muat jika untuk seluruh hewan di desa sekitar Besakih.

"Ini salah satu posko saja. Ada banyak. Kalau di sini semuanya enggak muat," jelas Wayan.

Abu Vulkanik Terbang ke Lombok

Abu vulkanik Gunung Agung juga sudah mengarah ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hal ini membuat warga panik. Mereka pun melarang anggota keluarga untuk keluar rumah bila tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

"Informasinya kami dengar debunya mengarah ke sini (Lombok). Jadi, sementara kami khawatir berpergian. Anak dan istri saya juga saya larang ke mana-mana," ujar Samsul Qomar, Warga Pemenang, Lombok Utara, Minggu (26/11/2017).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Muhammad Rum membenarkan bahwa debu letusan Gunung Agung sudah mulai mengarah ke Lombok.

Dia mengatakan, ketinggian sebaran debu vulkanik pada pukul 06.20 Wita diprediksi mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 meter dari puncak Gunung Agung. Pergerakan semburan menuju ke arah tenggara dengan kecepatan 18 Kilometer (km) per jam.

Share:

Abu Vulkanik Gunung Agung Mengarah ke Lombok, Warga Panik

Abu Vulkanik Gunung Agung Mengarah ke Lombok, Warga Panik


Abu vulkanik Gunung Agung yang mengarah ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, membuat warga panik. Mereka pun melarang anggota keluarga untuk keluar rumah bila tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

"Informasinya kami dengar debunya mengarah ke sini (Lombok). Jadi, sementara kami khawatir berpergian. Anak dan istri saya juga saya larang ke mana-mana," ujar Samsul Qomar, Warga Pemenang, Lombok Utara, Minggu (26/11/2017).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Muhammad Rum membenarkan bahwa debu letusan Gunung Agung sudah mulai mengarah ke Lombok.

Dia mengatakan, ketinggian sebaran debu vulkanik pada pukul 06.20 Wita diprediksi mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 meter dari puncak Gunung Agung. Pergerakan semburan menuju ke arah tenggara dengan kecepatan 18 Kilometer (km) per jam.

Meski demikian, dia meminta warga Lombok tidak panik dan tetap waspada. BPBD juga mengimbau agar warga tetap menggunakan masker jika berada di luar.

"Iya, kita waspadai, sudah ada sedikit debunya yang masuk ke ujung Kabupaten Lombok Utara. Kami imbau kepada warga, jangan keluar rumah jika tidak penting dan pastikan memakai masker jika berada di luar rumah," kata Rum.

Sementara itu, aktivitas penerbangan di Bandara Lombok International Airport (LIA) masih beroperasi secara normal dan belum ada pengalihan penerbangan atau penutupan bandara, meskipun debu vulkanik telah memasuki wilayah udara Lombok.

"Sampai saat ini masih normal, tidak ada pengalihan. Tim LIA sejak awal sudah melakukan langkah antisipasi sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SOP) bencana erupsi Gunung Agung," ujar Rum.

Abu Vulkanik Mengarah ke Timur

Gunung Agung terus mengalami erupsi sejak erupsi freatik pertama pada Sabtu 25 November 2017 pukul 17.30 WITA. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, erupsi terakhir terjadi Minggu (26/11/2017).

Peristiwa itu berlangsung pada pukul 05.05 WITA. Sutopo mengungkapkan, tinggi kolom abu kelabu gelap bertekanan sedang mencapai 2.000 meter. Selanjutnya, ketinggian mencapai 3.000 meter pada pukul 05.45 WITA.

Pukul 06.20 WITA tinggi erupsi Gunung Agung mencapai 3.000 meter hingga 4.000 meter dari puncak mengarah ke tenggara dengan kecepatan 18 km per jam.

"Analisis sebaran abu vulkanik dari satelit Himawari BMKG menunjukkan bahwa sebaran abu mengarah ke Timur hingga Tenggara menuju daerah Lombok," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/11/2017).

Ia menjelaskan, sifat dan arah sebaran abu vulkanik tergantung dari arah angin. Hujan abu dilaporkan terjadi di beberapa tempat seperti di Desa Duda Utara, Desa Duda Timur, Desa Pempetan, Desa Besakih, Desa Sideman, Desa Tirta Abang, Desa Sebudi, Desa Amerta Bhuana di Klungkung.

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) menaikkan peringatan penerbangan dari Orange menjadi Red.

Status Gunung Agung sendiri masih Siaga (level 3). Sutopo mengatakan, masyarakat direkomendasikan berada di luar radius 6-7,5 km dari puncak kawah.

"Masyarakat yang masih ada di dalam radius berbahaya segera mengungsi dengan tertib," ujar Sutopo.


Share:
Keluarga Besar Marga Sun. Diberdayakan oleh Blogger.

Breaking News

KAMI MENYEDIAKAN GAME LIVE CASINO TERBARU DI https://bit.ly/2pLGSsO SILAHKAN DAFTAR YA.. SALAM KEMENANGAN YA BOSKU

SABUNG AYAM