Situs Judi Online dan Artikel Sex Indonesia terpercaya 2019

Jumat, 29 Juli 2016

Prabowo Subianto Resmi Jagokan Sandiaga Uno Jadi Cagub DKI, Gimana Nasib Yusril?

Prabowo Subianto Resmi Jagokan Sandiaga Uno Jadi Cagub DKI, Gimana Nasib Yusril?


Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah memilih Sandiaga Uno sebagai calon yang akan diusung partainya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, pada Jumat (29/7/2016) sore. Keputusan itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Gerindra, di Hambalang, Jawa Barat.

Panji Gunardi, sahabat yang mendampingi Sandiaga hadir dalam acara itu mengatakan, suasana cukup riuh saat Prabowo menunjuk bakal calon yang akan diusung Gerindra menjadi bakal cagub DKI Jakarta 2017.

"Setelah pagi apel, lalu diisi acara pembekalan, sorenya pas pidato Bapak (Prabowo) bilang 'kita juga punya tugas besar untuk meletakkan kepemimpinan kita di Gubernur Jakarta. Orangnya itu ada di antara kita'," kata Panji, menuturkan ucapan Prabowo saat itu.

Menurut Panji, kader Gerindra nampak penasaran dengan ucapan Prabowo. Lalu banyak kader Gerindra yang meminta Prabowo menyebut nama figur yang akan diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Masa kalian begitu saja enggak tahu sih?" kata Panji, kembali menirukan ucapan Prabowo.

Setelah mengucapkan itu, Prabowo mengakhiri pidatonya dengan mengucap salam.

Namun, saat turun dari panggung, para kader terus mendesak Prabowo untuk menyebut nama figur yang akan diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Setelah itu, kata Panji, Prabowo pun menuju kursi yang diduduki Sandiaga. Semua kader Gerindra yang hadir pada acara itu masih memerhatikan dan menyaksikan ketika Prabowo menepuk bahu serta menyalami Sandiaga.

Saat itu juga, nama Sandiaga langsung dielu-elukan kader Gerindra.

"Bapak mendatangi Sandi, menepuk bahu, terus memegang tangan Sandiaga. Semua teriak Sandi... Sandi... Sandi, langsung hujan deras," ucap Panji.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik membenarkan bahwa Prabowo memutuskan Sandiaga sebagai figur yang akan diusung pada Pilkada DKI 2017.

"Sudah ada, Sandiaga Uno yang jadi cagub," kata Taufik, kepada Kompas.com.

Taufik mengatakan, salah satu alasan Sandiaga dipilih adalah karena dia merupakan kader internal.

"Saya kira lebih kepada karena dia kader internal. Karena kalau soal nilai, kayaknya semua sama ya," ujar Taufik.


Share:

Ocehan Freddy Budiman Ungkap Borok Pejabat BNN Hebohkan Medsos, Ini Kata Kapolri

Ocehan Freddy Budiman Ungkap Borok Pejabat BNN Hebohkan Medsos, Ini Kata Kapolri


Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan bawahannya untuk mengusut kebenaran ocehan terpidana mati Freddy Budiman.

Freddy mengaku sempat menggelontorkan uang Rp 450 miliar ke Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Rp 90 miliar ke pejabat di Mabes Polri.

Pengakuan Freddy itu diceritakan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.

Haris mengaku bertemu dengan Freddy di Lapas Nusakambangan, pada 2014 lalu setelah menerima undangan dari sebuah organisasi gereja.

"Selama beberapa tahun kerja menyelundupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri," kata Haris menirukan ucapan Freddy.

Selain itu, Haris juga mengungkapkan Kalapas Nusakambangan, Sitinjak sudah bekerja keras membangun integritas penjara dengan memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy Budiman. Namun anehnya, kata Haris, beberapa kali pejabat BNN yang sering berkunjung meminta itu dicabut.

"Saya menganggap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN keberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy sebagai penjahat kelas kakap harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri," jelasnya.

Menanggapi kabar ini, Tito mengaku sudah memerintahkan Kadiv Humas Irjen Boy Rafli Amar untuk bertemu dengan Haris. Dia ingin mengetahui secara detail mengenai persoalan tersebut.

"Saya sudah tugaskan Boy untuk bertemu Pak Haris Azhar secepat mungkin," tegas Tito.

Tito menambahkan, testimoni Haris yang merupakan pegiat HAM menjadi viral. Khawatir info itu bias, Tito merasa perlu tahu identitas jelas polisi dan anggota BNN yang memanfaatkan Freddy.

"Kita ingin tahu apakah beliau (Haris) ada nama jelas dan buktinya," tutur mantan Kapolda Metro itu.

Seperti diketahui, Freddy sudah dieksekusi dinihari tadi bersama dengan Humprey Ejike (40), Michael Titus (34) dan Cajetan Uchena Onyeworo Seck Osmane (34). Sedangkan 10 terpidana ditunda eksekusinya.

Share:

Pantas Narkoba Tak Pernah Habis, Ini Kebusukan Pejabat BNN Yang Di Ungkap Freddy Budiman

Pantas Narkoba Tak Pernah Habis, Ini Kebusukan Pejabat BNN Yang Di Ungkap Freddy Budiman


Detik-detik eksekusi mati terpidana kasus narkoba terhadap Freddy Budiman dkk ‘menggetarkan’ Tanah Air. Ada yang pro dan banyak yang kontra terhadap eksekusi mati ini. Mereka punya alasan masing-masing.

Termasuk Harris Azhar, Koordinator Kontras. Dia menulis panjang cerita pengakuan Freddy Budiman, salah satu bandar kakap. Tulisan Harris atas pengakuan Freddy Budiman mengungkap fakta-fakta yang jarang diketahui banyak orang.

Tulisan Harris ini diposting ulang Ulil Abshar Abdalla pada Jumat (29/7/2016) dini hari. Berikut tulisan kesaksian Harris Azhar dari Freddy Budiman:

“Cerita Busuk dari seorang Bandit”

Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

Di tengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secara komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja. Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada gelombang kedua (April 2015).

Saya patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.

Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman sebagai penjahat kelas “kakap” justru harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri.

Menurut ibu pelayan rohani yang mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan. Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:

“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya.

“Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (bos saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga). Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?”

Saya menjawab 50.000. Fredi langsung menjawab:
“Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina. Makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si pihak tertentu, ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak. Selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?”

Fredy menjawab sendiri. “Karena saya bisa dapat per butir 200.000. Jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu.”

Fredy melanjutkan ceritanya. “Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas. Saya jadi dipertanyakan oleh bos saya (yang di Cina). ‘Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?’”

Menurut Freddy, “Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu ditemukan oleh jaringan saya di lapangan.”

Fredi melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu? Dalam hitungan saya, selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN.

Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.

“Saya prihatin dengan pejabat yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan menceritakan dimana dan siapa bandarnya. Saya bilang, investor saya anak salah satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA).

Saya siap nunjukin dimana pabriknya. Dan saya pun berangkat dengan petugas BNN (tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina, sampai ke depan pabriknya. Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.

“Saya selalu kooperatif dengan petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya bukan kabur. Ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur, padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu polisi itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 miliar dari harga yang disepakati 2 miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan memeras saya.”

Freddy juga mengekspresikan bahwa dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang melindungi.

Kemudian saya bertanya ke Freddy dimana saya bisa dapat cerita ini? Kenapa Anda tidak bongkar cerita ini? Lalu Freddy menjawab:

“Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas. Saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”

Lalu saya pun mencari pledoi Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung. Yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy.

Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.***

Haris Azhar (2016).

Share:

Kamis, 28 Juli 2016

Ditanya Soal Ahok Yang Maju Via Parpol , Tumben Fadli Zon Jawab Begini

Ditanya Soal Ahok Yang Maju Via Parpol , Tumben Fadli Zon Jawab Begini


Bakal calon petahana Basuki Tjahaja Purnama telah memutuskan maju melalui partai politik di Pilgub DKI 2017.

Pria yang akrab disapa Ahok ini tampak mulai berpikir bahwa jalur parpol lebih mudah dan mengesampingkan dukungan sejuta KTP dukungan relawannya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon tak mau ambil pusing dengan keputusan Ahok. Dia menilai perubahan haluan Ahok yang sebelumnya yakin maju independen ke jalur parpol adalah hal lumrah dalam dunia politik.

"Ya terserah. Orang kan bisa berubah-berubah sikap dalam politik dan menunjukkan kualitas orang itu, kalau merasa yakin jalur perorangan ya harusnya jalur perorangan. Kalau mau sekarang parpol ya parpol. Tapi sah-sah saja. Terserah, enggak ada masalah," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7/16).

Keputusan Ahok itu tampaknya menimbulkan kekecewaan di kalangan relawan dan warga yang mendukungnya. Fadli pun menyerahkan semuanya kepada masyarakat selaku pemegang hak pilih, apakah masih mau mendukung Ahok atau tidak.

"Aduh, itu terserah. Karena, itu hak mereka mau mendukung atau tidak mendukung, KTP-nya asli atau palsu kita juga enggak tahu. Terserah saja," tegasnya.

"Ini proses dinamika awal dari sebuah proses pilkada. Jadi, masih panjang lah prosesnya. Nanti kita lihat bagaimana parpol menyiapkan calon lainnya," sambung dia.

Partai Gerindra, lanjutnya, memastikan tidak akan mengusung atau bergabung ke barisan parpol pendukung Ahok. Fadli menambahkan pihaknya tengah berproses menyiapkan kader sendiri untuk berhadapan dengan Ahok.

"Nanti, akan ada waktunya. Kita kan masih ada waktu. Menunggu proses di gerindra, masih dalam proses. Masih cukup banyak waktu. Sudah pasti enggak," pungkasnya

Share:

Begini Raut Aneh Wajah Megawati Saat Ahok Disambut Gemuruh di Rapimnas Golkar

Begini Raut Aneh Wajah Megawati Saat Ahok Disambut Gemuruh di Rapimnas Golkar


Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) hadir dalam penutupan Rapimnas Partai Golkar di JCC, Kamis (28/7/16). Kehadiran Ahok disambut riuh gemuruh para peserta Rapimnas.

Awalnya, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto memberikan sambutan selamat datang kepada Presiden Joko Widodo, para menteri, seluruh petinggi partai dan kepala lembaga negara. Di sana ada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, senior Golkar BJ Habibie, Ketua MPR Zulkifli Hasan sampai Gubernur DKI Jakarta Ahok.

Saat sambutan diucapkan Setya Novanto kepada Ahok, para peserta bersorak riang gembira. Ahok pun menyambut dengan tangan ke atas, serta membungkukan badannya untuk memberikan rasa hormat dan terima kasih.

"Gubernur kita, Basuki Purnama," kata Setya Novanto disambut riuh tepuk tangan ribuan kader Golkar yang hadir.

Ada yang menarik dalam momen tersebut, Megawati Soekarnoputri yang duduk tak jauh dari Ahok tampak menunjukkan wajah yang datar, sama sekali tidak senyum, apalagi ikut tepuk tangan. Kebetulan, duduk Mega hanya berbeda satu kursi dipisahkan oleh Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie (Ical).

Hubungan antara Megawati dan Ahok memang paling menjadi sorotan belakangan ini. Sebab, keputusan PDIP dalam Pilgub DKI 2017 sangat dinanti. Ahok sendiri mengakui masih berharap dukungan dari PDIP.

Share:

Lagi Ramai " Balikin KTP Gue" Di Twitter, Begini Reaksi Tim Pemenangan Ahok

Lagi Ramai " Balikin KTP Gue" Di Twitter, Begini Reaksi Tim Pemenangan Ahok

Kekecewaan terhadap keputusan Basuki T Purnama maju lewat jalur partai politik ramai dibicarakan di media sosial. Di Twitter, kekecewaan itu dituangkan para pendukungnya lewat hashtag 'BalikinKTPGue'.

Bahkan, hashtag tersebut langsung menjadi trending topic nomor satu se-Indonesia


Menanggapi hal itu, Ketua tim pemenangan Ahok alias Basuki T Purnama, Nusron Wahid menilai, reaksi itu hanyalah proses artikulasi publik. Terlebih setiap keputusan pasti ada untung dan ruginya.

"Ya orang bikin hashtag kan enggak apa-apa, dan saya kira itu bagian dari proses artikulasi publik dan setiap keputusan politik yang diambil pasti ada untung dan ruginya," ujar Nusron saat ditemui di Rapimnas I Partai Golkar, di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (28/7/16).

Nusron meyakini, selama pemberi KTP untuk Ahok itu menginginkan kembali Ahok sebagai gubernur, hal itu tak akan banyak mempengaruhi. Pasalnya, dengan atau tanpa partai, Ahok tetap harus duduk di kursi DKI 1.

"Jadi kalau Ahok maju lewat partai politik kan judulnya Ahok maju sebagai gubernur masih terbuka," ujar Nusron.

Apalagi, kata Nusron, partai politik yang mendukung Ahok terbukti tidak melakukan penekanan-penekanan terhadap mantan Bupati Belitung Timur itu.

"Kan partai politik yang mendukung Ahok terbukti tidak menekan Ahok, tidak bargaining Ahok, bargaining wakil Ahok, tidak minta ini itu dan sebagainya," tambahnya.

Menurut politisi partai Golkar ini, yang terpenting adalah cara agar Ahok bisa dicalonkan kembali sebagai gubernur. Sebab, Ahok dinilai memiliki segudang prestasi yang sayang bila langkahnya dihambat.

"Dia (Ahok) orang berani, pintar dan punya prestasi, kita menghargai orang yang punya prestasi, jadi jangan dihambat. Dulu tuduhan parpol itu menghambat jalannya dia, tapi sekarang parpol tidak menghambat tetapi justru mengawalnya," jelas Nusron.

"Jadi Ahok ini milik parpol, milik masyarakat dan milik semuanya, hanya kebetulan ini pembelajaran besar untuk partai politik. Selama ini orang di parpol itu cenderung menghambat. Orang yang tak sejalan dibuang. Dan sekarang ini parpol sejalan dan sudah tidak ada hambatan tentang itu," tutupnya

Share:

Ini Pertanyaan Besar Ahok Ke Pendukungnya Yang Kecewa Lantaran Dirinya Maju Via Parpol

Ini Pertanyaan Besar Ahok Ke Pendukungnya Yang Kecewa Lantaran Dirinya Maju Via Parpol


Kandidat petahana Pilgub Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbicara kepada pendukungnya yang kecewa terhadap keputusannya memilih jalur parpol. Ahok menegaskan kepada mereka, dirinya tak lagi melakukan deparpolisasi.

Ahok mempertanyakan kembali ketulusan sikap para pendukungnya yang kecewa, apakah mereka menyetor KTP dukungan ke Teman Ahok benar-benar untuk menjadikan Ahok bisa maju ke Pilgub DKI, ataukah ada maksud lain.

"Makanya sekarang yang ngomong kecewa itu saya mesti tanya juga, Anda ngumpulin KTP pengin saya jadi gubernur kembali atau pengin saya melawan seluruh partai politik? Itu pertanyaan saja," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (28/7/2016).

Ahok menilai sejuta KTP dukungan yang telah terkumpul di Teman Ahok bukanlah suatu kesia-siaan. Toh bila Ahok ingin menempuh jalur independen juga bisa, namun tidak dilakukan.

Ini karena ada partai-partai politik yang juga ikut mendukung Ahok. Tiga parpol itu yakni Partai NasDem, Hanura, dan Golkar, dirasa Ahok perlu dihargai. Ahok dan Teman Ahok juga sudah meninggalkan sikap deparpolisasi.

"Ada independen sama parpol. Kita kan sudah bukan deparpolisasi lagi," kata Ahok.

Istilah deparpolisasi belakangan dicuatkan kembali oleh PDIP. Deparpolisasi yang sekarang agak berbeda maknanya dibanding istilah deparpolisasi yang bermakna pengurangan jumlah partai dalam pemilu.

Istilah deparpolisasi dalam konteks Pilgub DKI 2017 bermakna penghancuran fungsi partai oleh kelompok nonpartai, lewat jalur independen dalam Pemilu Kepala Daerah

Share:

Rabu, 27 Juli 2016

Ini Respon Mengejutkan Dubes Rusia Soal 2 Warganya Yang Jadi Pengemis Di Stasiun Sudirman

Ini Respon Mengejutkan Dubes Rusia Soal 2 Warganya Yang Jadi Pengemis Di Stasiun Sudirman


Sepasang mahasiswa Rusia, Dimitrii Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova diberitakan terlunta-lunta di Jakarta karena kehilangan dokumen penting seperti paspor dan uang tunai saat menjalani penelitian di Papua. Muncul selentingan pihak kedutaan Rusia cuek dan tidak mengindahkan permintaan mereka.

Duta Besar Rusia Mikhael Galuzin membantah pemberitaan yang beredar terkait selentingan itu. Konsul kedutaan dia klaim sudah menawarkan pemulangan serta beberapa opsi lain kepada keduanya.

"Meski tidak didukung oleh paspor dan dokumen penting lain, Konsul kami telah siap untuk semua pengurusan terkait hal tersebut. Namun ternyata mereka menolak untuk dipulangkan secara segera," terang Galuzin di kediamannya di bilangan Kuningan, Jakarta, Rabu (27/7/16).

Beberapa opsi juga sempat ditawarkan, seperti menelepon kerabat untuk dapat membantu kepulangan mereka.

"Konsul kami telah menawarkan untuk dapat berbicara langsung kepada pihak keluarga menggunakan semua fasilitas di sini. Hal itu dimaksudkan untuk kepentingan mereka seperti meminta kiriman uang dari keluarga di Rusia untuk pembelian tiket pesawat, namun mereka menolak dan ingin tetap ada di Jakarta sampai awal Agustus sekitar tanggal 1 atau 2," jelasnya.

Dubes Galuzin secara tegas tidak membenarkan adanya berita yang beredar lewat jejarin Facebook.

"Kami secara cepat telah melakukan yang terbaik untuk mereka. Mereka yang menolak dan ingin tinggal sedikit lebih lama di Indonesia," kata Galuzin.

Dimitrii Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova berasal dari Moscow State University. Mereka melakukan penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan mereka dengan judul "Permasalahan dan mendasar pengembangan tempat rekreasi Asia dan Russia: Analisis komparatif"

Dimitrii dan Aleksandra telah melakukan observasi di Kazakhstan, China, Vietnam, Thailand, dan Malaysia, hingga akhirnya mengalami kesialan di Indonesia.

Beredar foto kedua orang ini menggelandang di Stasiun Sudirman dan mengundang perhatian masyarakat. Kisah ini banyak dibagikan di Facebook.

Share:

Sudah Final, Ahok Akhirnya Putuskan Akan Maju Lewat Jalur Ini Pada Pilkada DKI 2017

Sudah Final, Ahok Akhirnya Putuskan Akan Maju Lewat Jalur Ini Pada Pilkada DKI 2017


Akhirnya kandidat petahana Pilgub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menentukan pilihan jalur politiknya.

Dia meninggalkan jalur independen yang selama ini dia rencanakan, dan memilih jalur partai politik menuju Pilgub DKI 2017.

"Sudah, saya pakai parpol saja lah. Terimakasih," kata Ahok di pengujung sambutannya dalam halal bihalal di Sekretariat Teman Ahok, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (27/7/2016).

Ahok mengucapkan hal tersebut di akhir sambutannya. Pria yang berkemeja kotak-kotak biru itu lantas disambut tepuk tangan seratusan orang di tenda merah putih itu.

Tiga parpol pendukung menyatakan siap menyukseskan Ahok, mereka adalah Partai NasDem, Partai Hanura, dan Partai Golkar. Para elitenya berkumpul di tempat ini. Begitu pula Teman Ahok.

"Kami menghargai dan mendukung keputusan Ahok, setelah kami lakukan dialog dengan Basuki Tjahaja Purnama, perwakilan tiga partai pendukung, Akhirnya Ahok memutuskan untuk maju menggunakan kendaraan partai politik bersama Teman Ahok," kata juru bicara Teman Ahok Amalia Ayuningtyas

Share:

Anda Pasti Kaget, Ternyata Ini Penyebab Menteri Puan 2 Kali Lolos Dari Reshuffle Kabinet

Anda Pasti Kaget, Ternyata Ini Penyebab Menteri Puan 2 Kali Lolos Dari Reshuffle Kabinet


Usai Presiden Jokowi mengumumkan menteri menteri baru dan menteri lama yang terkena reshuffle , mata para netizen langsung tertuju  kepada menko PMK Puan Maharani

Alasannya sederhana sekali karena menko PMK Puan Maharani ini sudah dua kali lolos dari reshuffle kabinet walau selama ini sama sekali tidak pernah terdengar apa prestasi yang pernah ia lakukan selama menjabat sebagai menteri PMK

Justru sebaliknya, mentri PMK Puan Maharani ini pernah membuat statemen yang bikin dirinya di bully banyak orang lantaran meminta rakyat miskin untuk diet dan tidak makan terlalu banyak

Terkait tidak dicopotnya puan maharani sebagai menko PMK oleh presiden jokowi, Bikin para netizen di media sosial gemes dan membuat guyonan

Berikut Ini candaan netizen yang didapatkan Tim islamnkri.com lewat group WA soal alasan kenapa menteri PMK Puan Maharani hingga detik ini tidak pernah tersentuh oleh jokowi

*Alasan Reshuffle Kabinet *

Anies memang tidak cocok jadi menteri yang membuat kebijakan teknis, Anies lebih cocok jadi inspirator untuk hal-hal yang bersifat umum dan universal

Sementara Yuddy tidak bisa menjaga konsistensi dirinya dengan peraturan yang dibuatnya

Untuk pergantian Bambang, kelihatannya Jokowi memerlukan yang lebih berpengalaman seperti Sri Mulyani

Luhut mengesankan dia berada di atas Jokowi sehingga tidak baik untuk dipasang sebagai bawahannya Jokowi

Jonan tidak bisa menjembatani "konsep" Jokowi mengenai pembangunan sarana transportasi, dan malah menentangnya

Thomas Lembong enggak kedengaran apa kebijakannya

 Sementara Tuan Putri Yang cantik Jelita Menko Puan Maharani  tidak disentuh Jokowi karena _bukan muhrim.."



Share:

Menteri Rizal Ramli Dicopot Jokowi Sebagai Menteri, Ini Komentar Ahok

Menteri Rizal Ramli Dicopot Jokowi Sebagai Menteri, Ini Komentar Ahok


Menko Maritim Rizal Ramli ikut dicopot dalam reshuffle jilid II yang diumumkan Presiden Joko Widodo hari ini. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnam (Ahok) yang sempat 'berseteru' dengan Rizal soal reklamasi Teluk Jakarta, merespons santai pencopotan Rizal.

"Itu hak prerogatif Presidenlah," kata Ahok santai saat ditanya wartawan usai menghadiri pelantikan menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7/2016).

Ahok mengaku berteman baik dengan Rizal Ramli. Dia enggan mengomentari pencopotan Rizal yang baru 11 bulan bekerja. "Aku teman baik sama beliau kok, ya makan di rumahnya. Teman baik. Aku kenal lama, soal ganti menteri mah prerogatif Presiden," ujar Ahok.

Ahok juga menuturkan, 12 menteri dan 1 kepala BKPM yang baru dilantik punya kompetensi untuk menjalankan tugas. Tinggal melihat hasil dari kinerja mereka.

"Lihat saja sahamnya naik nggak?" tanya Ahok merujuk pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi I yang ditutup di zona hijau bersamaan dengan diumumkannya sejumlah menteri baru dalam reshuffle kabinet jilid 2.

Lalu apakah sudah tepat Rizal diganti menteri baru? "Nggak tahu, tanya Presiden," jawab Ahok tertawa kecil sambil berlalu meninggalkan Istana.

Share:

Ditanya Apa Alasan Copot Menteri Anies Baswedan, Ini Jawaban Presiden Jokowi

Ditanya Apa Alasan Copot Menteri Anies Baswedan, Ini Jawaban Presiden Jokowi


Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menunjuk Muhajir Effendi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan. Anies dicopot dari kabinet kerja lantaran tak melakukan gebrakan yang cepat selama menjabat sebagai Mendikbud

"Pak Anies juga bekerja dengan baik, tapi tentunya ada ekspektasi yang diinginkan Presiden dan Wapres ke depan ini yang mungkin berbeda," ungkap Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/16).

Menurut Pramono, Anies menyambut baik atas perombakan kabinet jilid II ini. Hal ini diketahui setelah Presiden memanggil belasan menteri terkait pada Selasa (26/7/16) malam.

"Alhamdulillah semua menteri bisa menerima dengan baik," jelasnya.

Politisi PDIP ini melanjutkan, Presiden berharap perombakan kabinet kerja jilid II ini bisa memberi perubahan dalam roda kepemimpinan Jokowi. Presiden tak ingin ada kegaduhan yang terjadi di jajaran menteri seperti perseteruan antara Menteri ESDM Sudirman Said dengan Menko Kemaritiman Rizal Ramli.

"Harapannya dengan komposisi dan tim yang baru mudah-mudahan orkestra kabinet kerja ini bisa lebih baik dan juga mengurangi hal yang pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Share:
Keluarga Besar Marga Sun. Diberdayakan oleh Blogger.

Breaking News

KAMI MENYEDIAKAN GAME LIVE CASINO TERBARU DI https://bit.ly/2pLGSsO SILAHKAN DAFTAR YA.. SALAM KEMENANGAN YA BOSKU

SABUNG AYAM